Keseimbangan Hidup
Setiap diriku pulang ke Balikpapan untuk menengok orangtua tanpa naik Bis patas Bontang-Balikpapan atau mobil travel, pasti aku akan ganti kendaraan sebanyak 2 kali bis dan 3 kali angkot. Seperti pulangku bulan kemaren.
Angkutan pertama membawaku dari kost menuju terminal Bontang; aku naik angkot yang walaupun dari luar kelihatan gak layak untuk digunakan untuk angkutan umum tetapi setelah didalam mesinnya cukup bagus, suara mesin juga gak terlalu bising.
Angkutan kedua membawaku dari terminal Bontang menuju Samarinda; aku naik bis yg tidak perlu disebut namanya. Dari luar bis itu begitu bagus full AC lagi plus music dan film. Tapi setelah didalam dan selama perjalanan , masya Allah AC-nya ternyata tidak berfungsi dengan baik, jalannya lambat dan ditengah jalan sempat berhenti pula karena ada kerusakan. Komplit penderitaan dengan kepala pusing dan perut mual. Alhamdulillah sampai ke Samarinda tanpa muntah di bis.
Angkutan ketiga membawaku dari terminal Lempake Samarinda ke masjid depan Mall Lembuswana; aku naik angkot yang dari luar sudah bikin malas naik begitu jalan mesinnya berisik dan sopir yang ugal-ugalan. Astaghfirullah...
Angkutan keempat membawaku ke terminal Sungai Kunjang; Alhamdulillah aku dapat angkot yang layak baik luar maupun dalamnya serta sopir yang cukup santun.
Angkutan kelima membawaku ke kotaku Balikpapan; seperti angkutan yg keempat aku jg naik bis yang bagus luar dan dalam, walaupun sopirnya lebih cukup membuat tubuh bergoyang ke kiri- ke kanan karena lajunya mobil.
Alhamdulillah sampai di KM 12, kakakku telah menunggu dengan motornya. Allahu Akbar sampailah di rumah tempat orang-orag yang kucintai.
Dari ceritaku di atas tadi aku jadi teringat sebuah taujih dari seorang kakak, sahabat, guru, saudara seiman yang kini sudah pindah ke Jakarta.
"Sungguh di dunia ini manusia penuh dengan bermacam-macam tingkah lakunya. Ada yang begitu mengagungkan dunia, ada yang begitu larut untuk akhiratnya, ada yang cuek akan kedua namun ada juga yang menyeimbangkan keduanya. Subhanallah... "
Dari taujih tsb aku ingin membandingkan dengan cerita sebelumnya di atas.
Yang Pertama;
Angkutan pertama walau dari luar jelek tetapi bagus didalamnya, bila kuibaratkan bagaikan perumpamaan orang yang kurang memperhatikan penampilan dunianya sehingga dia kelihatan begitu lusuh, kumuh dimata orang lain tetapi sebenarnya hatinya begitu mulia karena selalu ingin mendapatkan kemulian di akhirat nanti.
Yang kedua;
Angkutan kedua walau dari luar bagus tapi pada kenyataannya didalam tak sebagus luarnya, bila diibaratkan ini seperti orang yang begitu memperlihatkan penampilan dunianya agar dipandang dan mendapatkan kemuliaan didunia tetapi pada kenyataannya itu hanyalah semu karena didalm hatinya tidak terpikir akan menghiasi hati dengan amalan yang membawa kemulian di hari akhiratnya.
Yang Ketiga;
Angkutan ketiga inilah yang paling dibenci orang, sudah jelek dari luar jg jelek didalam. Bila diibaratkan inilah manusia yang paling hina di dunia dan terlebih diakhirat. Didunia hidupnya tidak disukai orang dan diakhirat dia wallahu a'lam karena hatinya tidak pernah dihiasi dengan kebaikan.
Yang keempat dan kelima;
Angkutan inilah yang begitu didamba orang, bagus diluar dan bagus didalam. Bila diibaratkan inilah manusia yang disanjung didunia karena kebaikannya, dan Insya Allah akan dimuliakan Allah di akhirat karena hatinya senantiasa dihiasi kebaikan dan amalan-amalan yang baik.
Dari semua itu mari kita renungkan kembali mana sikap yang paling baik, yang harus kita terapkan dalam kehidupan kita..
Yang pasti senantiasalah tawazun (seimbang) dalam kehidupan kita, senantiasa berbuat baik didunia dan yang terpenting ingatlah bekal kita untuk diakhirat nanti... Wallahu a'lam bi showab.
Moga bermanfaat bagi diriku dan yang lainnya...
Ya Rabb... Engkaulah yang Maha Tahu atas segala sesuatu yang hamba-Mu lakukan, maka ampunilah dosa-dosa yang hamba lakukan dan berilah petunjuk agar hamba tetap istiqomah dijalan-Mu...
Teriring salam rindu dan ukhuwah
Bontang, kenangan 2008
Komentar
Posting Komentar