IBU DAN UANG KEMBALIAN
Setiap detik pergerakan alam semesta
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah. Setiap detik, menit dan jam perjalanan
hidup anak manusia dan makhluk ciptaan Allah lainnya di dunia ini mengandung
makna kehidupan. Semuanya mengandung pelajaran yang dapat kita ambil hikmahnya.
Seperti yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari, kejadian-kejadian yang
mungkin bisa kita ambil hikmahnya bila kita renungkan.
Sore itu, seperti biasa… sebelum
pulang ke rumah dari kantor, kusempatkan mampir ke minimarket untuk membeli
beberapa barang yang dipesan istri.
Suasana minimarket agak sepi, hanya
ada ibu yang menggendong anaknya dan 2 muda-mudi yang belanja makanan ringan.
Setelah selesai mengambil barang yang dibutuhkan, ku melangkah menuju kasir
untuk membayar.
Kulihat ada sedikit keributan kecil
antara kasir dan ibu yang menggendong anak. “Kembaliannya mana mb?” ibu itu
bertanya. “maaf bu, uang kecilnya lagi habis. Disumbangkan saja yah bu?” kasir
muda itu menjawab. “enak aja disumbangin! biar kata cuma tiga ratus, itu juga
uang mba! Kalo gak ada uang segitu gak bisa pas uang seribu! Kalo uangnya
kurang saya tidak bisa naik becak pulang!” si ibu kembali bersuara dengan nada
marah. Akhirnya si kasir muda tersebut memanggil temannya untuk mencarikan uang
kembalian si ibu. Alhamdulillah ada dan semua selesai, akupun bisa cepat
menyelesaikan transaksi pembelian dan pulang ke rumah.
Di perjalanan pulang, peristiwa tadi
mengingatkanku ketika masih di Bontang. Saat perjalanan naik bus pulang ke
rumah orang tua. Peristiwa yang akan kuingat dan selalu kujadikan pelajaran
untuk tidak meremehkan hal yang kecil.
Hari itu aku pulang lebih malam dari
biasanya. Pukul 19.30 bus terakhir dari Samarinda menuju ke Balikpapan. Aku
naik di deretan kursi dekat pintu belakang. Di seberang kursi yang ku duduki
kulihat rombongan ibu-ibu penjual kain keliling, biasanya. Setelah beberapa
lama perjalanan si kenek bus mulai meminta karcis penumpang yang dari terminal
atau uang bagi penumpang yang naik diluar terminal. Saat sampai ke rombongan
ibu-ibu tadi, sempat terjadi adu mulut. Seorang ibu meminta uang kembaliannya.
“ mas, mana kembaliannya?”. “ah, ibu ini. Uang 500 aja masih diminta, yang lain
juga gak pada gak minta!” sahut kenek bus. “eh mas, biarpun cuma 500 perak kalo
kurang, saya gak bisa naik ojek sampai rumah! Lah, sampean enak kelebihan 500
kalo dikali 30 orang sudah dapat berapa?”sembur si ibu gak mau kalah. Akhirnya
si kenek bus, menyerahkan kembalian uang tersebut kepada ibu dan
teman-temannya.
Sepanjang perjalanan aku merenungi
perkataan ibu tadi. Terkadang karena nilainya kecil dan kita merasa masih ada
lebih hal tersebut dianggap sepele. Tetapi berbeda dengan saudara-saudara kita
yang masih membutuhkan, nilai seberapapun pasti akan mereka minta kembali untuk
keperluan lainnya.
Ya Allah, Maha Suci Engkau yang telah
memperlihatkan betapa kebesaranMu diantara kelemahan-kelemahan hambaMu.
Subhanallahu Walhamdulillahi Wala
Ilahilallahu Allahu Akbar.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih
bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali
Imran:190-191).
Surakarta, Mei 2022
Komentar
Posting Komentar