Batu dan Bisikan
(Hari ini ingin ku berbagi kembali kisah penuh hikmah. Kisah ini
kudapatkan dari milis yang pernah ku ikuti (lupa namanya) tapi insya
Allah bermanfaat...
Selamat menikmati sajian penuh hikmah ini.. ).
.....................................................................................................
Ada seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.
Di pinggir jalan tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, sesuatu melintas dari arah mobil-mobil yang diparkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu melintas. Aah.., ternyata sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Pintu mobil pengusaha itu tergores. Cittt….Ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, ia mundur ke arah batu dilemparkan. Jaguar yang tergores bukanlah perkara sepele. Apalagi kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha. Amarahnya memuncak. Dia keluar dari mobil dengan tergesa. Ditariknya seorang anak yang paling dekat. Dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” lihat goresan itu,” teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tahu, mobil ini butuh banyak ongkos untuk memperbaikinya,” katanya dengan geram dengan tangan ingin memukul anak itu. Anak itu ketakutan. “Maaf, Pak. Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa. Saya melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata membasahi pipinya, anak itu menunjuk ke suatu arah dekat mobil-mobil parkir tadi. “Di sana ada kakak saya. Ia terjatuh dari kursi rodanya. Aku tak kuat mengangkatnya sendiri. Sekarang dia sedang kesakitan.”Kini, anak itu terisak. Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Dipandanginya pengusaha tadi. “Maukah Bapak membantu saya mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah.”
Si pengusaha tak mampu berkata-kata lagi. Kerongkongannya terasa tercekat. Dalam diam, ia segera menuju ke arah yang ditunjuk anak itu. Diangkatnya anak cacat yang tergeletak di tanah itu dan didudukkan ke kursi roda. Kemudian dengan sapu tangannya yang mahal, ia mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, semoga Tuhan akan membalas perbuatan Anda.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Si pengusaha berjalan sangat perlahan menuju Jaguarnya. Disusurinya jalan itu lambat-lambat sambil merenungkan kejadian yang baru saja melewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal yang sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat karena seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipicu untuk berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya, untuk melintas sekitar? Tuhan akan selalu berbisik dalam jiwa dan berkata lewat kalbu kita.Kadang kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Karena itu, Teman, harus ada yang “melemparkan batu” agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita: mau mendengar bisikan-Nya atau menunggu lemparan batu yang lebih besar lagi.
Selamat menikmati sajian penuh hikmah ini.. ).
.....................................................................................................
Ada seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.
Di pinggir jalan tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu.
Tiba-tiba, sesuatu melintas dari arah mobil-mobil yang diparkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu melintas. Aah.., ternyata sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Pintu mobil pengusaha itu tergores. Cittt….Ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, ia mundur ke arah batu dilemparkan. Jaguar yang tergores bukanlah perkara sepele. Apalagi kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha. Amarahnya memuncak. Dia keluar dari mobil dengan tergesa. Ditariknya seorang anak yang paling dekat. Dipojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” lihat goresan itu,” teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tahu, mobil ini butuh banyak ongkos untuk memperbaikinya,” katanya dengan geram dengan tangan ingin memukul anak itu. Anak itu ketakutan. “Maaf, Pak. Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa. Saya melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”
Dengan air mata membasahi pipinya, anak itu menunjuk ke suatu arah dekat mobil-mobil parkir tadi. “Di sana ada kakak saya. Ia terjatuh dari kursi rodanya. Aku tak kuat mengangkatnya sendiri. Sekarang dia sedang kesakitan.”Kini, anak itu terisak. Nafasnya sedikit tersengal-sengal. Dipandanginya pengusaha tadi. “Maukah Bapak membantu saya mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah.”
Si pengusaha tak mampu berkata-kata lagi. Kerongkongannya terasa tercekat. Dalam diam, ia segera menuju ke arah yang ditunjuk anak itu. Diangkatnya anak cacat yang tergeletak di tanah itu dan didudukkan ke kursi roda. Kemudian dengan sapu tangannya yang mahal, ia mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti pintu Jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, semoga Tuhan akan membalas perbuatan Anda.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Si pengusaha berjalan sangat perlahan menuju Jaguarnya. Disusurinya jalan itu lambat-lambat sambil merenungkan kejadian yang baru saja melewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal yang sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat: “Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat karena seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya kendaraan, hidup kita akan selalu berputar dan dipicu untuk berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya, untuk melintas sekitar? Tuhan akan selalu berbisik dalam jiwa dan berkata lewat kalbu kita.Kadang kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Karena itu, Teman, harus ada yang “melemparkan batu” agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita: mau mendengar bisikan-Nya atau menunggu lemparan batu yang lebih besar lagi.
Wallahu a'lam bisshowab.
Sumber : Milis Pengajian Kantor
Komentar
Posting Komentar